Down time and heal
DOWN
TIME
Aku memulai kembali menjadikan menulis sebagai sarana stress relief. Entah apakah usiaku saat ini masih layak
dikategorikan sebagai remaja atau tidak, Aku tidak tau juga sebab beberapa
referensi berbeda-beda. Hari ini aku kembali pada realita dan menyadari bahwa
usiaku bukan belasan lagi. Usia yang menua namun aku semakin tak bergairah
terhadap semuanya. Melihat orang-orang menemukan hal yang disukainya dan
menjadi keren karena menekuni bidang itu. Sedang aku yang masih begini-begini
saja.
Kemudahan teknologi
ternyata tak selalu berdampak baik. Menjadi generasi melek teknologi tidak
selalu se-wow itu. Overwheelming menjadi suatu hal yang
sulit lepas. Terlalu banyak menyerap informasi membuatku merasa seakan aku diam
dan orang lain terus bergerak, orang lain mengetahui banyak hal sementara aku tidak.
Overwheelming ini lalu menuntunku
menuju pribadi yang overthinking, insecure, dan pastinya FOMO (Fear Of Missing Out). Lalu aku bingung how to keep move? Bagaimana untuk terus bergerak maju ke depan? Aku
menamai fase ini “downtime”.
Saat aku kuliah teknik
industri, aku belajar bahwa pada saat proses produksi dengan pengoperasian mesin-mesin
yang berjalan terus-menerus. Ada satu fase dimana mesin-mesin itu mengalami
downtime dengan indikasi yang menunjukkan bahwa kinerja/performa yang tidak
maksimal. Alhasil, mesin yang downtime tersebut menghasilkan output yang tidak
baik atau dapat disebut “defect” atau produk cacat. Produk yang
tidak sesuai dengan standarisasi perusahaan. Namun apakah ketika downtime mesin
tersebut berhenti beroperasi? Tentu saja tidak. Mesin tersebut terus bergerak
dan menghasilkan hasil yang tidak baik. Mesin tersebut membutuhkan maintenance atau perawatan. Baik itu corrective maintenance maupun preventive maintenance. Beberapa
perusahaan seakan tidak peduli dengan maintenance.
Mereka terus memacu mesin-mesin tersebut untuk terus menerus beroperasi.
Alhasil downtime atau penurunan performansi tersebut akan berkembang menjadi
sebuah failure atau kerusakan.
Lantas apa gunanya kita
membahas mesin saat ini? Meskipun manusia dan mesin merupakan 2 hal berbeda.
Namun lewat perumpamaan tersebut, I try to tell you that sometimes life is
sucks. Dunia tidak akan berhenti ketika kita tidak merasa baik-baik saja.
Sekolah, kuliah, pekerjaan kita terus berjalan. Orang-orang seakan tidak mau
tau, intinya kepentingannya dengan kita harus selesai. Atasan pada tempat
bekerja membutuhkan hasil kerja kita. Dosen/Guru membutuhkan ujian dan tugas
untuk dikoreksi dan dinilai. Dalam hal ini, aku mencoba memberi tahumu bahwa perasaan
merupakan sesuatu yang tidak kelihatan pada diri setiap manusia sehingga ketika
kita sedang merasa tidak baik-baik saja, tidak heran jika tuntutan akan ini dan
itu tetap ada. Bukankah sudah kukatakan bahwa dunia tidak akan berhenti hanya
karena kamu sedang merasa tidak baik-baik saja. Kita masih harus memberi makan
tanggung jawab kita, memenuhi deadline atau target yang diberikan dari
perusahaan tempat kita bekerja, kita masih harus mengikuti ujian dan menjalani
serangkaian tanggung jawab yang dibebankan kepada kita. Kita akhirnya tiba pada
suatu titik dimana kita merasa jenuh. Perasaan-perasaan yang tidak kita sukai
hadir bersamaan, marah, kecewa, gelisah dan banyak emosi negatif yang menyatu
dan menghantam kita dalam satu waktu.
Lantas bagaimana keluar
dari fase downtime? Sama seperti mesin kita membutuhkan maintenance. Mesin yang berbeda-beda pasti berbeda-beda pula
tindakan perawatannya. Manusia membutuhkan penyembuhan atau heal dari rasa tidak baik-baik saja
tersebut. Perlu pengobatan akan rasa muak, rasa jenuh, gelisah dan kecewa. Setiap
kita memiliki formula berbeda-beda perihal jalan keluar dari fase downtime. Aku mencoba memaparkan
beberapa, semoga dari beberapa uraian ini ada yang pas denganmu dan jika tidak
maka, it means you must found your own formula. Aku mengetik ini dari kamarku
yang berantakan dengan sebuah janji sehabis ini akan segera kubereskan ya
meskipun nantinya mungkin akan berantakan lagi. Selepas bersih-bersih dan
beberes kita mendapati ada perasaan lega , puas dan juga bangga that makes us
feel better. Atau jika kamu merasa sangat terpuruk dan merasa gak mood and don’t have more energy to clean up
your room. It’s okay. Let’s try another way. Kamu bisa mulai dari hal kecil
dari atas tempat tidur tempat kamu berbaring saat ini, kamu bisa menyetel lagu
favoritmu, tak harus lagu yang lagi trend
pada masa itu. Jika kau merasa terlalu bosan dengannya, coba ingat
lagu-lagu lawas yang pernah menjadi favoritmu, lagu yang sudah lama tidak kamu
dengar. Then go ahead! Play it. Rasakan tiap irama dan bagaimana beat nya membuatmu kembali bergairah dan
bersemangat lagi sehingga kamu merasa lebih baik.
Bagaimana? Sudah merasa
lebih baik. Jika sudah maka sekarang cobalah beranjak dari kasur tempatmu
berbaring. Make some tea or coffe or any hot drink that you like. Sesuaikan
dengan seleramu, mulai dari takaran gulanya, takaran kopi atau seberapa lama
kamu mau mencelupkan tehnya. Hirup lalu minum dengan sendok, tiup perlahan lalu
rasakan. Lega bukan? Kamu berhasil merealisasikannya sesuai keinginanmu, kamu
bisa menyesuaikan rasanya sesuai dengan selera yang kamu mau. Congrats. You are
moving one step from down time phase. Aku mencoba memberi tahumu bahwa untuk heal atau sembuh dari rasa tidak
baik-baik saja, kamu tidak harus langsung mengambil langkah besar. Langkah yang
kecil-kecil aja dulu. Bisa jadi bermain dengan hewan peliharaanmu, menyaksikan
tingkahnya yang menggemaskan, bukankan dapat menguntai sebuah senyum pada
wajahmu? Atau masaklah apa yang sedang ingin kamu makan, rasakan betapa
menyenangkannya meracik sesuai masakan tersebut sesuai dengan keinginanmu.
Kunjungi tempat yang ingin kau kunjungi atau yang sudah lama ga kamu kunjungi,
pergilah, sendiri juga gapapa kok. Temui keheningan di sana, resapi ketenangan
dan pulanglah dengan perasaan yang lega dan membawa semangat baru. Atau kamu
bisa cerita kepada ibu atau sahabatmu yang bisa jadi sudah lama tidak kamu
hubungi mungkin karena kamu terlalu takut menceritakan semuanya atau bisa jadi
kamu trust issue. Cobalah
perlahan-lahan untuk kembali terbuka. Temui orang terkasih, peluk mereka
erat-erat, kamu boleh menangis dalam pelukannya, jangan takut terlihat lemah
karena semua orang pernah merasa tidak baik-baik saja. Jika tangismu telah
usai, maka mulailah ceritakan yang menjadi kegelisahanmu. Jika kamu bahkan
tidak tahu akar penyebab kamu merasa gelisah dan tidak baik-baik saja maka
mintalah mereka untuk mendoakanmu. Atau jika kamu berjauhan dengan orang
terkasih yang ingin kamu temui, telfon saja, video call atau apalah itu, bukankah melihat sebuah goresan senyum
pada wajah ibu sudah jauh lebih dari cukup. Bukankah kembali memecah tawa
dengan sahabat lama itu sangat melegakan? Sangat melegakan mungkin mengetahui
kamu masih memiliki seseorang, bahkan lebih dari seseorang. Kamu punya ibu,
ayah, kakak, adik, sahabat, atau bahkan kekasih. Kamu tidak sendiri, ternyata
masih ada beberapa orang. They stand for you. Ada orang-orang yang masih ingin
melihatmu besok dan besok dan besoknya lagi. Ada orang-orang yang masih mau
mendengar suaramu, ada orang-orang yang masih butuh menyaksikan tingkah
konyolmu. Sebegitu berartinya kehadiranmu bagi mereka. Jadi bagaimana? Sudah
cukupkah itu menjadi alasan untuk bertahan? I hope you feel more better.
Promise me, jangan diakhiri dulu yaa, please. Ayolah, kamu masih harus menemukan
formula sembuh itu dulu, okey??
Bagaimana jika mereka
yang sangat ingin kamu temui ternyata sudah tidak dapat lagi kamu temui dalam
artian mereka telah berpulang. Maka cobalah berdoa, doakan mereka, doakan
dirimu. Sampaikan segala keluh kesahmu kepada Yang Maha Kuasa. Mungkin kamu
akan menitihkan air mata, tidak apa, itu merupakan sebuah proses sembuh. Maka
percayalah, Sang Pencipta pasti mendengarkan seruanmu, Ia tidak mungkin akan
membiarkanmu terus-terusan merasa demikian. Ia akan membukakan jalan, Ia akan
mengirimkan orang-orang yang menjadi perpanjangan tangannya untuk menolongmu
keluar dari rasa terpurukmu.
Komentar
Posting Komentar